laman

Senin, 04 Juni 2018

Review: Sam Di Gi Bocah yan tidak bisa Membaca




Sam Di Gi adalah julukan bagi Um San Geok, tetapi dia lebih suka dipanggil Sam Di Gi yang artinya si buta huruf. Walaupun sudah duduk di kelas 2 Sam Di Gi tidak bisa membaca. Dia tidak sekolah TK dan dia tinggal bersama neneknya yang buta huruf. Nilai ulangan Sam Di Gi selalu nol. Sam Di Gi tidak disukai teman-temannya. Karena sering digoda temannya Sam Di Gi jadi cepat emosi dan merasa bahwa dia tidak akan bisa membaca.

Suatu hari ada anak baru di kelas Sam Di Gi, Bo Ra namanya. Dia pindahan dari desa. Karena hanya ada tempat kosong di samping Sam Di Gi maka Bo Ra duduk di samping Sam Di Gi. Hyun Jin mengatai Sam Di Gi tidak bisa membaca, sehingga Bo Ra tahu. Sam Di Gi malu. Ketika Bo Ra menanyakan hal itu, Sam Di Gi marah dan membenci Bo Ra. Bo Ra merasa prihatin dengan keadaan Sam Di Gi dan ia ingin agar Sam Di Gi bisa membaca. Bo Ra membaca buku cerita dan meminjamkannya pada Sam Di Gi. Namun Sam Di Gi membanting buku tersebut. Melihat sikap Sam Di Gi, Bo Ra tidak marah. Dia tetap bersikap baik hingga meluluhkan hati Sam Di Gi. Sejak itu setiap hari Bo Ra membacakan cerita kepada Sam Di Gi dan juga meminjaminya buku bukunya untuk di bawa pulang. Di rumah Sam Di Gi membacakan buku itu kepada neneknya. Padahal Sam Di Gi tidak bisa membaca tetapi dia tahu jalan ceritanya.

Lewat buku ini kita diajari untuk memahami perasaan orang lain, melalui Sam Di Gi yang buta huruf. Kita juga diajarkan untuk bersimpati pada orang lain dan tidak merendahkan mereka  tetapi bagaimana kita bisa membantunya untuk menyelesaikan kekurangannya. Bagi guru buku ini juga ada pelajaran yang sangat berharga bagaimana pun kita juga harus memperhatikan siswa kita untuk belajar membaca. Dan memberikan motivasi membaca dengan membacakan buku cerita seperti yang telah dilakukan Bo Ra pada Sam Di Gi.

Judul: Sam Di Gi bocah yang tidak bisa membaca
Penerbit: Dar Mizan
Penulis : Won Yousoon
Ilustrator: Lee Hyunmi
Jumlah halaman : 95 hal
Penerjemah: Siti Mutiaraningsih

Minggu, 30 Juli 2017

Review; Ice Breaker fo teacher



Dulu ketika kita mengenyam bangku sekolah, belajar cukup dengan duduk manis di belakang bangku sambil mendengarkan guru yang menjelaskan pelajaran, atau yang disebut dengan metode ceramah. Kelas sepenuhnya dikuasai oleh guru dan siswa menjadi pendengar setia ceramah guru. Namun perkembangan dunia pendidikan saat ini malah kebalikannya. Belajar dengan metode ceramah sudah ketinggalan jaman, dan perlahan mulai ditinggalkan. Dunia pendidikan saat ini menuntut siswa harus aktif sedangkan guru menjadi fasilitator. Hal itu menuntut para guru untuk bisa menciptakan suasana kelas yang nyaman, kondusif dan menyenangkan sehingga siswa bisa menyerap ilmu dengan cepat dan bermakna.

Dalam keadaan senang, otak siswa berada pada gelombang alfa dan beta. Ketika otak berada pda gelombang tersebut, siswa akan mudah menerima informasi yang masuk. Lalu bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa tidak bosan di kelas, yup dengan memberikan atau menciptakan Ice breaker di dalam kelas.

Nah buku Ice breaker for teacher, tulisan Aries Setiawan ini sangat rocomended buat guru atau trainer. Buku ini berisi tentang kiat menjadikan suasana belajar mengajar lebih menyenangkan. Kiat-kiat dalam buku ini memang bukan sepenuhnya ciptaan penulis, tetapi ini juga ciptaan dari guru-guru yang menjadi bimbingannya, sehingga kiat-kiat yang ada dalam buku ini sudah di praktekkan oleh guru-guru.  Kiat menjadikan suasana belajar lebih menyenangkan, salah satu cara adalah dengan melakukan ice breaker.
Ice breaker ada yang menyebutnya dengan energizer atau refocus sering diartikan pemecah kebekuan merupakan tehnik-tehnik yang digunakan dalam suatu forum untuk memecahkna kebekuan dan kejenuhan yang ada dalam forum tersebut. (hal. 3)

 Ada beberapa cara melakukan Ice breaker bisa dengan melakukan tepuk, senam, games, teka-teki, menyanyi, story telling, kata indah dan visual. Tidak itu saja di dalamnya juga dijelaskan cara penggunaan dan kapan harus bermain tepuk, games senam, menyanyi dll. Dan juga dijelaskan manajemen Ice Breaker.

Judul: Ice Breaker for Teacher
Pengarang: Aries Setiawan
Penerbit: FillaPress
Terbit: Edisi Revisi
Tebal: 122 hlm



                                                                                  keb

Minggu, 16 Juli 2017

Review: Traveling Photography Best Spot Turki, Swiss, Prancis, Singapura dan Vietnam


Mungkin sebagian kita sudah tidak asing dengan nama ini “Yuyung Abdi.” Yup, wartawan Foto yang sudah sejak 1995 bekerja di Jawa Pos. Sudah tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam menyajikan sebuah tempat atau kejadian dalam sebuah bingkai foto. Dalam bukunya Traveling Photography Best Spot Turki, Swiss, Prancis, Singapura dan Vietnam Yuyung tidak hanya menyajikan foto-foto tempat yang indah, tetapi juga ada sebuah catatan tentang sejarah, keterangan tempat dan juga kondisi suatu Negara yang dia kunjungi.

Foto-foto yang disajikan eye catching membuat saya menyelipkan mimpi untuk bisa pergi ke sana, selain itu dalam setiap foto yang disajikan Yuyung memberikan keterangan pengaturan camera misalnya jenis kamera yang dipakai mengambil gambar, ukuran lensa, length, sutter speed diafragma dan juga waktu pengambilannya sehingga foto itu  hanya indah tetapi juga terlihat sangat nyata.  Dari situ kita juga bisa belajar untuk membuat pengaturan pada kamera kita sehingga kita dapat menghasilkan foto yang tak hanya indah tetapi juga bercerita.

Nah bagi photographer buku ini bisa menjadi rekomendasi sebagai panduan untuk menghasilkan gambar yang eye catching. Bagi para penjelajah atau pecinta traveling buku ini bisa menjadi referensi untuk memilih tempat berlibur, apalagi sekarang traveling tidak lagi menjadi barang mewah, tetapi lebih pada kebutuhan.

Judul: Traveling Photography Best Spot Turki, Swiss, Prancis, Singapura dan Vietnam
Pengarang: Yuyung Abdi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: Cetakan pertama, 2013
Tebal: 240 hlm
ISBN: 978-602-02-1989-9-53-1

Jumat, 30 Juni 2017

Review; Betang Cinta Yang Tumbuh Dalam Diam



Judul : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Penulis : Shabrina Ws
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tebal : 175 halaman
ISBN : 978-602-02-2389-6
Harga : Rp 29.600



Buku ini merupakan hadiah langsung dari penulisnya. Maunya sih beli, eh malah dapat gratisan heee....

Kalau dilihat dari covernya dengan warna yang lembut memang terlihat kurang menarik. Tetapi saya yakin shabrina ws selalu punya cerita yang menarik dan lain dari pada yang lain dengan bahasa yang khas.

Dari cover yang bergambar rumah betang, perahu dayung dan dua anak kecil, sudah cukup menceritakan isi novel tersebut. Lokalitas yang diangkat tentang rumah Betang dan pendeskripsian yang gamblang, membuat kita serasa berkunjung ke rumah betang.  Novel yang bersetting di kalimantan tengah ini menceritakan tentang Danum yang hidup di rumah betang bersama kakek, nenek dan saudaranya Arba. 

Danum sejak kecil sudah bersahabat dengan Dehen, Dehen ingin menjadi atlet dayung nasional, keliling dunia dan mengibarkan bendera merah putih di negeri orang. keinginan Dehen menular ke Danum. Namun mereka terpisah, karena Dehen harus ikut orang tuanya pindah ke Palangkaraya. 

Perjuangan Danum untuk menjadi atlet dayung dan sampai di pelatnas tidaklah mulus. Berulang kali Danum jatuh dalam kegagalan. berkali-kali dia pernah kehilangan. Hal itu memberikan pelajaran pada kita akan arti sebuah perjuangan untuk mencapai impian . ketika telah sampai di Pelatnas Danum menghadapi dilema, untuk tetap maju ke Pelatnas dan meninggalkan rumah Betang atau tetap tinggal bersama kakeknya di rumah betang. Pada saat itulah seseorang harus memlilih, karena terkadang untuk mencapai impian terdapat batu terjal dan butuh keyakinan untuk menetapkan pilihan.

Berkat semangat Arbalah, kakak yang sangat perhatian, Danum melangkah untuk mencapai impiannya. Di Pelatnas dia bertemu dengan Dehen. Ada cinta yang menyeruak dalam dadanya, namun ada Sallie diantara mereka.  Seperti sebuah hal wajib, bahwa dalam sebuah novel tentu ada bumbu cintnya. Namun cinta dalam diam antara Dehen dan Danum dikemas dengan sangat indah.

Menurutku novel ini konfliknya datar dan tidak penuh kejutan, namun bahasanya mengalir dan enak untuk dinikmati, di setiap Bab terdapat quote yang membuat kita berhenti sejenak untuk merenung. 

Senin, 05 Juni 2017

Review; Pangeran Bumi dan Kesatria Langit



Apa yang ada di kepala kita ketika menyebut panti atau rumah Asuhan. Tentu yang terlintas adalah sebuah rumah yang penuh dengan anak yatim-piatu dan anak-anak yang terbuang. Anak-anak terbuang yang ditemukan di tong sampah, di dalam kardus atau sengaja di taruh di depan pagar panti.  Selama ini jarang buku yang mengambil setting Panti Asuhan. Stigma negatif dari kumpulan anak-anak yang terbuang jarang sekali diangkat menjadi sebuah novel. 

Ary Nilandari dalam novel Pengeran Bumi dan Kesatria Bulan hendak menunjukkan kehidupan panti asuhan. Anak-anak yang terlahir dari Rahim yang berbeda namun dipersaudarakan oleh nasib. Mereka menyebut diri mereka dengan sebutan anak-anak bulan. Akankah mereka yang terbuang tidak pernah mencapai kesuksesan dan hidup dari belas kasihan para donator. Nyatanya tidak, dalam novel ini diceritakan bahwa Maya adalah salah satu penghuni rumah asuhan bunda Wulan, berjuang keras untuk melindungi saudara-saudara angkatnya dari stigma yatim-piatu dan kurang beruntung. Maya rela keluar dari pekerjaan memberi les privatnya karena tak sanggup mendengar Okta saudara angkatnya sering dihina. Di usia yang sangat muda Maya sudah mendulang kesuksesan, meski harus bekerja sambil kuliah dia mendapat pekerjaan yang layak. Asyik kerja menyebabkan tidak lulus-lulus dalam kuliah. 

Geo datang memberi corak warna dalam hidupnya. Maya yakin Geo adalah lelaki paling cocok untuk menjadi pendamping hidup, namun tanpa disadari di alam bawah sadarnya, Maya menyimpan cinta untuk Jono, temannya di panti asuhan yang akhirnya bisa menemukan ibu yang melahirkannya.

Ternyata orang yang saling dekat pun tidak mengetahui segalanya tentang diri masing-masig. Barangkali itu yang mmebuat suatu hubungan menjadi menarik dan hidup. Terus belajar, sellau ada kejutan, belajar lagi. Seperti membaca buku mengasyikkan yang taka da habisnya, dan tak ingin habis.(hal;290)

Novel yang disajikan dengan bahas yang ringan, menyentuh, mengaduk perasaan.  Ary hendak menunjukkan bagaimana mencintai dengan kedewasaan. Cinta yang ditunjukkan oleh Geo dan Jono ketika mencintai satu orang yang sama. Cinta tak perlu kata indah, tetapi bukti nyata. Cinta yang tidak egois, tetapi mereka fokus untuk melakukan yang terbaik dan memberi kebahagiaan pada orang yang mereka cintai. Cinta bukan sebuah paksaan, namun sebuah kesadaran untuk bisa membahagiakan orang yang dicintai bahkan ketika orang yang dicintai harus memilih orang lain. Dia melapangkan hatinya karena cinta tak harus memiliki. Cinta adalah membuat orang yang dicinta selalu bahagia meski disamping orang lain.

Dua sungai yang mengalir berdampingan tidak harus bersatu dan bermuara pada titik yang sama. Tetapi keduanya masih bisa memberi manfaat bagi satu sama lain dan lingkungan mereka. (hal. 315)

Judul: Pangeran Bumi Kesatria Bulan
Pengarang: Ary Nilandari
Penerbit: Qanita
Terbit: Cetakan pertama, 2014
Tebal: 321 hlm
ISBN: 978-602-1637-38-5
Genre: Novel Remaja



Sabtu, 20 Mei 2017

Review; Kisah-Kisah Kehamilan dan Melahirkan yang Paling Mengharukan


Menjalani proses kehamilan itu sangat mengesankan. Pengalaman pada kehamilannya berbeda antara perempuan satu dengan yang lain.

Buku ini  memuat kisah perjuangan para ibu dalam memperoleh keturunan, menjalani kehamilan, serta mengalami kelahiran yang sangat mengharukan. Terdapat 21 kisah yang merupakan pengalaman pribadi sang penulis juga merupakan hasil wawancara langsung dari orang tua yang mengalaminya.

Seperti dalam tulisan yang berjudul Ketika Tangan Allah bekerja; kisah perjuangan Martha Tilaar memperoleh keturunan. Mengisahkan tentang Martha Tilaar yang pernah divonis mandul oleh 4 dokter. Tak patah harapan dia melakukan terapi bahkan sampai ke luar negeri. 3,5 tahun kemudian dia periksa lagi karena tidak menstruasi. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan kalau dia sudah premonopause. Seperti tidak ada harapan lagi untuk mempunyai anak. Maka dia mengizinkan suaminya untuk menikah agar mendapat keturunan. Namun suaminya menolak. Dia mengatakan kalau dia sudah mempunyai istri kedua. Suami Martha menggandengnya dan menunjukkan berderet-deret buku yang ada di rumah. Ketika semuanya telah dipasrahkan pada Allah, dan merelakan pernikahannya tanpa anak, Allah memberi keajaiban. Di usianya yang ke-45 tahun, dia mengandung. Bahkan sekarang sudah mempunyai anak 4.

Lain lagi kisah bu E, dalam tulisan yang berjudul Anda masih beruntung. Sang penulis mengisahkan bu E menikah tanpa persetujuan orang tuanya karena calon suaminya pengangguran. Namun bu E yakin dia akan hidup bahagia. Dalam perkawinannya Bu E tak menemukan kebahagiaan itu, namun karena malu jika harus kembali ke orang tuanya, maka dia pun berpura-pura bahagia. Lagian cinta bu E yang teramat besar pada suaminya membuat dia rela menjadi tulang punggung keluarga dan diperlakukan kasar oleh suaminya. Selama 2 tahun dia meminum pil KB agar tidak punya anak, namun siapa sangka, jika Allah berkehendak pastilah semuanya bisa terjadi. Bu E dinyatakan hamil. Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya dia mempunyai anak yang merupakan dambaan bagi setiap insan yang telah menikah. Sedih karena suami tak pernah mengharapkannya. Suaminya bahkan tidak pernah peduli dengan dirinya. Hal membikin miris, ketika akan melahirkan, dan sudah mulai kontraksi. Karena tidak bisa dilakukan sendiri, terpaksa dia meminta tolong pada suaminya untuk ke bidan terdekat. Jarak rumah Bu E dengan rumah bidan sejauh 10 km. Karena tidak ada motor, suami pun meminjam pada tetangganya. Jangan kira suaminya membonceng bu E. Bu E malah disuruh jalan dari rumahnya sampai di bidan.

Ada banyak kisah mengharukan di buku ini, dari situ kita bisa melihat betapa pengorbanan seorang ibu selama mengandung sampai melahirkan takkan bisa dibandingkan dengan apapun. Di tulis dengan sudut pandang orang pertama menjadikan seakan-akan kita yang mengalami. Buku ini memang cukup mengaduk-aduk perasaan.

Membaca kisah-kisah di buku itu, bagi para perempuan yang sedang menanti kelahiran seorang putra seakan memberi secercah harapan untuk tidak berputus asa akan rahmat Allah, bahkan ketika vonis mandul itu terlontarkan, atau sakit parah yang mempunyai harapan sangat tipis untuk bisa hamil. Karena semuanya bisa menjadi mungkin di tangan Allah. Selalin itu kita juga bisa membandingkan penderitaan yang mereka alami dengan penderitaan kita sehingga menumbuhkan sikap optimis dalam hidup dan menjadikan kita lebih kuat dalam menjalani hidup. Akhirnya buku ini sangat rekomended tak hanya untuk para wanita tetapi juga para lelaki yang kelak akan menjadi ayah.

Judul: Kisah-Kisah Kehamilan dan Melahirkan yang Paling Mengharukan
Pengarang: Nurul Chomaria, S.Psi.
Penerbit: Ahad Books
Terbit: Cetakan pertama, 2013
Tebal: 159 hlm

ISBN: 978-602-7929-53-1

Rabu, 03 Mei 2017

MENIKAH MUDA?? SIAPA TAKUT!!!

Masa remaja adalah masa yang paling indah. Pada saat itulah muncullah ketertarikan terhadap lawan jenis. Tak ada salahnya ketika rasa suka terhadap lawan jenis itu muncul karena itu memang hal yang wajar dan tidak dilarang agama. Yang perlu remaja lakukan adalah seni menahannya. Jangan sampai rasa suka itu menjerumuskan para remaja kepada kemaksiatan bahkan pada hal-hal yang dilarang dalam agama, misalnya pacaran hingga melewati batas-batas agama dengan dalih cinta. Padahal antara suka dan cinta itu dua hal yang berbeda.

Suka itu dimensi nafsu atau naluri hewaniah. Liar. Tidak ada aturan. Naluri ingin mendapatkan sesuatu dari lawan jenisnya.
Sementara cinta itu dimensi ilahiah atau ketuhanan. Sistem rasa yang humanis. Rasa cinta cenderung ingin memberi dan menjaga kesucian lawan jenisnya. (hal;30)

Rasa suka dan cinta itu juga berbeda dalam hal kemunculannya.
Rasa suka muncul disebabkan terjadinya interaksi lawan jenis dalam kehidupan sehari-hari. Frekuensi interaksi sangat menentukan kelanggengan rasa suka.
Sementara rasa cinta muncul karena terjadinya sebuah perjanjian mulia, yaitu akad nikah. (hal;33)


Benarkah rasa yang tumbuh itu adalah rasa cinta atau hanya suka belaka. Buku ini sengaja ditulis oleh Munib Chatib sebagai hadiah pernikahan untuk anak semata wayangnya yang memilih menikah di usia muda. Munib hendak menunjukkan bahwa nikah di usia bisa menjadi solusi atas keresahan dan kegelisahan para orang tua untuk menjaga anaknya dari kejamnya pengaruh zaman yang makin edan ini.

Tentu saja akan ada kekhawatiran ketika memutuskan menikah di usia muda. Bagaimana dengan karir yang ingin diraih, bagaimana memberi nafkah financial sementara keduanya masih kuliah, Apakah benar si anak cukup dewasa untuk mengarungi samudera pernikahan? nah disinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua harus mendukung sepenuhnya untuk mengizinkan anaknya menikah di usia muda. Dan kalau perlu membantu secara finansial hingga anaknya bisa mendapatkan kerja dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Itu akan lebih baik ketimbang membiarkan anak-anak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan dan pergaulan bebas.


Dibalut dengan cover merah muda yang melambangkan cinta, buku ini membahas 3 tema besar. Membedakan antara suka dan cinta, memahami pernikahan dengan seluk beluknya dan mendefinisikan pasangan yang baik serta peran orang tua ketika anak memutuskan untuk menikah di usia muda. Buku ini disajikan full color dengan ilustrasi yang menarik di tiap halamannya membuat pembaca tidak cepat bosan. Apalagi kalimat yang digunakan tidak seperti buku-buku pada umumnya yang tiap halamannya penuh dengan beberapa paragraf dengan kalimat yang panjang-panjang. Buku ini menggunakan Kalimat yang pendek-pendek namun serat makna sehngga mengajak pembaca untuk berfikir dan menelisik kembali apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga anak-anak kita. Akhirnya buku ini cocok untuk dibaca kawula muda dan juga para orang tua.



Judul: Parentslearn2, Menikah Itu Ibadah
Pengarang: Munif Chatib
Penerbit: Kaifa
Terbit: Cetakan pertama, 2016
Tebal: 91 hlm

ISBN: 978-602-0851-73-0

Jumat, 17 Februari 2017

BERIMAJINASI SAMBIL BELAJAR MENGENAL BERBAGAI MACAM PENYAKIT


Mongkre si monster jahat yang tinggal di tengah hutan berencana untuk mengganggu penduduk Negeri Segalanya Sangat Menyenangkan yang dihuni oleh kurcaci bertubuh gempal dan berhidung besar. Mongkre membenci para kurcaci karena selalu riang gembira. Untuk melancarkan rencananya, dia melakukan tipu muslihat dengan berpura-pura menyelamatkan raja Lalat yang terjebak di sarang Laba-laba. Sebagai rasa terima kasih Raja Lalat siap membantu rencana jahat Mongkre. Raja lalat menyuruh anak buahnya pergi ke negeri Segalanya Sangat Menyenangkan. Mereka membawa kuman penyakit di kakinya dan hinggap di atas makanan yang dibiarkan terbuka.

Akibatnya penduduk negeri Segalanya Sangat Menyenangkan ada yang menderita sakit perut, mumtah-muntah dan mengalami diare. Oldor, kurcaci dan juga dokter meneliti penyebab penyakit tersebut. Para kurcaci makan makanan yang dihinggapi lalat dan minum air yang belum dimasak. Dia juga sangat terkejut melihat kuman-kuman penyakit yang ada ditinja para kurcaci. Dia lalu memberikan obat kepada mereka, dan juga memberikan banyak minum kepada mereka. Oldor juga mengajari para kurcaci mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta memasak air sebelum diminum.

Itulah salah satu dari 6 cerita yang ada dalam buku OLdor. Selain cerita semuanya seru, dengan membaca buku itu, kita juga akan belajar berbagai macam penyakit, disetiap akhir cerita terdapat penjelasan penyakit, sebabnya, gambar virusnya, cara mencegahnya dan bagaimana penularannya.

Judul: Oldor
Pengarang: dr. Grendi dan dr. Ririn
Penerbit: Tiga Ananda
Terbit: Cetakan pertama, 2014
Tebal: 120 hlm

ISBN: 978-979-045-766-9

Selasa, 07 Februari 2017

Review Book; I Was a Rat



Judul: I Was a Rat! Or The Scarlet Slippers
Pengarang: Philip Pullman
Penerbit: Gramedia
Terbit: Cetakan pertama, 2007
Tebal: 256 hlm
ISBN: 978-979-22-3430-5
Genre: Novel Anak/ Inggris
 
Setiap membaca novel anak karya Pullman, hati saya berdecak kagum. Tokohnya memang terkadang absurd, atau mengangkat benda mati yang seolah punya perasaan seperti manusia. Dan beberapa kali saya baca novel karangan Pullman, tokohnya terjebak dalam keadaan yang sulit yang pada akhirnya dengan ketangguhannya bisa menyelesaikan kesulitan itu.

Begitu juga dalam novel I Was a Rat (dulu saya tikus) mengisahkan tentang seekor tikus yang berubah menjadi manusia. Dia ditemukan oleh kakek pembuat sepatu dan nenek yang kesehariannya membuka laundry. Sejak pertama mereka bertemu anak itu mereka langsung jatuh cinta. Namun anak itu tidak bisa  bicara layaknya manusia. Karena takut dituduh menculik dan khawatir anak itu dicari orang tuanya maka mereka membawa keliling kota, ke balai kota, dinas sosial, ke kantor polisi,  rumah sakit, untuk mengembalikannya ke tempat asalnya. Namun gagal. Namun tikus tetaplah tikus, dia memakan pensil sang hakim, anak itu ditolak dan dianggap kurang waras, demikian juga ketika Roger dibawa ke kantor polisi. 

Mereka memutuskan merawatnya, dan memberi nama Roger. Agar bisa sama dengan anak yang lain, Bob dan Joan menyekolahkannya. Naas di sekolah dia dibully teman hingga mengundang kemarahan sang kepala sekolah. Sang kepala.sekolah hendak menghukumnya, namun Roger lari menyelamatkan diri. Ibarat pepatah keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya. Roger ditemukan oleh pemilik sirkus, dia dijadikan tikus jadi-jadian yang menjijikkan. Dia dijadikan bahan tontonan untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. 

Robert secara tak sengaja diselamatkan oleh anak anak, dan dia.masuk ke gorong-gorong, alhasil.dia diberitakan sebagai monster membahayakan. Dia ditangkap polisi, dia diadili dan hampir dihukum mati. Bob dan Joan meminta  bantuan pada kerajaan, dan bertemulah dengan sang putri. Sang putri bertekad mengeluarkan Roger bagaimanapun caranya. Mampukan sang putri membebaskan Roger dari segala tuduhan. Dan apa hubungan Roger  dengan sang putri, hingga sang putri berusaha mati matian untuk membebaskan Roger. 

Membaca novel ini memberi pelajaran  bagi kita.bahwa menjadi manusia dengan sebenar-benar manusia tidaklah mudah, meski tidak.bisa dikatakan sulit. Ada quotes yang kusuka dalam buku ini;

Menurutku yang terpenting bukanlah apa dirimu, tapi apa yang kaulakukan” (hlm. 240) 


“Sulit sekali jadi manusia, tapi tidak terlalu sulit jika kamu berfikir kamu memang manusia” (hlm. 249)

Rabu, 25 Mei 2016

(Review) Bella; Sekolah Tak Perlu Air Mata



Tentu diantara kita sudah kenal dengan Munif Chatib. pakar pendidikan yang menggagas sekolahnya manusia. banyak buku yang ditulisnya, dan kesemuanya tentang pendidikan. dan ketika saya melihat buku “Bella;Sekolah Tak Perlu Air Mata” dengan penulis Munif Chatib, menerbitkan penasaran dalam benak saya akan isi dan gaya bertuturnya.

Karena beliau pakar pendidikan, maka novelnya pun tak jauh-jauh dari pendidikan. Novel ini adalah racikan fakta-fakta yang terjadi dalam dunia pendidikan anak-anak kita yang dilapisi dengan konsep-konsep pendidikan yang humanis. Berkisah tentang Bella, anak berkebutuhan khusus penyandang disleksia. Disleksia ini terjadi karena kurangnya nutrisi ketika bayi dalam kandungan. Dari segi fisik Bella terlihat sempurna, tetapi ketika umur 2 tahun, Bella tak kunjung dapat bicara, dia paham maksud orang ketika berkomunikasi dengannya, tetapi untuk berbicara dia kesulitan. Dari konsultasi dengan Jainuri, temannya yang psikolog, Alwan tahu kalau Bella menyandang disleksia.

Orang tua mana yang tak sedih melihat anak semata wayangnya menyandang disleksia. Ketakutan akan masa depan anaknya yang suram pun sering menghantuinya.  Tetapi alwan tahu bahwa anak adalah istimewa, dia yakin Tuhan tak menciptakan produk gagal. karena itu Alwan berusaha keras untuk mengantar bella mengenal dunianya.

Terima kasih Ya Allah…
Engkau hadirkan orang yang terbaik untukku
hari ini aku bahagia sekali
Bendungan disleksia itu bobol
Bella tidak bisu
Dia bisa bicara
Sungguh, Allah tidak pernah memproduksi produk gagal
-sketsa hati seorang hamba- (hal 63)

Alwan dan Salma berjuang dalam membesarkan dan mengantarkan Bella menjadi sukses. Anak yang berkebutuhan khusus pun bisa meraih kesuksesan asalkan kita tahu dari pintu mana informasi bisa masuk. Demikian juga Bella, ketika Alwan sudah hampir putus asa menghadapi Bella yang tidak bisa membaca, Allah memberi petunjuk, dengan gambar gambar Bella yang ada di dinding. Dari situlah Alwan mengetahui, kalau Bella bisa menerima informasi melalui gambar. Alwan dan istrinya mengajari Bella dengan gambar. Dan hasilnya fantastis dengan gambar-gambar itu Bella mulai  bisa mengenal.huruf dan bisa membaca serta menghitung. 

focus pada kecerdasan
jangan pada hambatan
putriku punya harta karun di dasar samudranya
dan aku harus jadi penyelam
untuk menjelajahnya
untuk menemukannya
meskipun tersembunyi
di lubang gelap
dasar yang tergelap sekalipun
-sketsa hati seorang hamba-  (hal 130)

Dari situ kita bisa belajar, bahwa tidak ada anak bodoh, yang ada hanya kita yang tidak tahu dari pintu mana informasi bisa masuk pada anak, dan inilah yang disebut gaya belajar. Dan focus pada kelebihan anak, jangan pada hambatan.

Sedih ketika anak yang berkebutuhan khusus ditolak.di sekolah mana pun. Dari sinilah Munif ingin mengkritik dan mengajak kita mendefinisikan ulang tentang sekolah unggul itu, menurutnya sekolah unggul itu, bukanlah sekolah yang meluluskan siswanya dengan nilai nem tertinggi, karena memang sejak awal mereka memberlakukan serentetan tes masuk bagi calon siswanya untuk mendapatkan bibit unggul, tetapi sekolah unggul itu sekolah yang mampu menerima siswa dalam kondisi apapun, pintar hayuk, bodoh hayuk, nakal boleh bahkan mereka yang inklusi/ berkebutuhan khusus, bisa tetap bersekolah, karena ini adalah sekolah manusia, sekolahan tanpa membedakan bedakan normal atau tidak normal.

sekolah itu bukan perusahaan
sungguh, anak-anak kita butuh sekolah
siapa pun dia, bagaimana kondisinya
mereka bukan buruh atau karyawan
yang harusn menjalani tes-tes ketidakpercayaan
ya, tes-tes itu adalah tes ketidakpercayaan pada Allah
Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk sebaik-baiknya  (hal. 54)

Tidak itu saja di novel itu ada juga sebuah kritik tentang perlakuan guru terhadap murid. Sebandel apapun, sebodoh apapun seorang pendidik tidaklah pantas merendahkan anak didiknya dengan mengatakan bodoh atau apapun sebangsanya yang bisa membuat murid terpuruk dan trauma. Karena cacat fisik lebih mudah disembuhkan ketimbang trouma psikologis. Hal itu digambarkan oleh Munif ketika Bella kelas 1 sekolah dasar. Pak Hadi guru Bella mengata-ngatai Bella karena ketidakmampuannya mengerjakan soal penjumlahan sederhana. Dan itu berdampak hingga Bella dewasa.  Bella tidak suka pelajaran berhitung, karena yakin dia tidak akan bisa.
Buku ini bagus dan serat makna, bahasa sangat sederhana, jadi mudah dipaham
i.

Penulis : Munif Chatib
Judul: Bella; Sekolah Tak Perlu Air Mata
Tebal : 197
Penerbit : Kaifa
Tahun: 2016 (cet.2)
Harga: 49.000

Rabu, 13 April 2016

CONTRUCT YOUR HABIT






Gajah itu melakukan apa yang diintruksikan perempuan yang masih berumur belasan tahun itu. Pertunjukan yamg bercerita tentang perburuan gajah liar itu berlangsung dengan lancar dan sukses. Sang gajah yang merasa diberi perangkap oleh pemburu berjalan dengan mengendap-ngendap dan berhasil menyelamatkan diri dari pemburu tersebut. Para pengunjung terkagum- kagum dengan ketangkasan sang gajah.

Diantara kita pasti sering melihat pertunjukan lumba-lumba. Biasanya ada 4 lumba-lumba yang dengan tangkasnya melakukan semua perintah tuannya. Mereka berenang, bermain bola bola. Meletakkan bola di atas mulutnya sambil berenang. Lumba-lumba itu memberi salam para penonton. Para penonton bersorak gembira dan bertepuk tangan. Seorang lelaki muda dengan ikan di tangannya, melemparkan ikan tersebut ke mulut sang lumba-lumba. Lumba-lumba masuk ke dalam sebuah kolam. Dia berenang mengitari kolam sambil sesekali menggoyang-goyangkan ekornya ke atas. Pelatih melemparkan bola. "Tangkap, john!" John dengam sigap menangkap bola dan meletakkan bola di mulutnya dan memberikannya pada tuannya. Lagi-lagi penonton bersorak gembira. Sebagai akhir dari pertunjukan John dan teman-temannya mengucapkan salam perpisahan dan bersalaman dengan sang pelatih menggunakam siripnya.

Ini baru pertunjukan lumba-lumba dan gajah. Masih banyak lagi pertunjukan yang  diperankan oleh kucing, burung, anjing dan lain sebagainya. Lalu bagaimana mereka bisa melalukan itu semua, padahal  hewan tidak punya akal. Ya semua itu karena habit atau kebiasaan.

Habit yang dilakukan dengan melakukan pengkondisian kepada hewan-hewan tersebut. Mereka dilatih oleh para ahli dan dilakukan berulang-ulang. Sehingga dengan pengkodisiam tersebut maka hanya dengan mengatakan perintah tertentu hewan-hewan itu akan melakulan sesuai perintah. Kalau hewan saja yang tidak dianugerahi akal, bisa melakukannya dengan baik, lalu bagaimana dengan manusia? pasti lebih bisa, asalkan punya kemauan membentuk habit tertentu sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Lalu apa itu habit. Habit adalah kebiasaan yang diperoleh dari latihan dan pengulangan. Latihan guna membuat hal menjadi benar. Sedangkan pengulangan membuat sempurna.

Spiral habit
Repetition --practice -- commit -- learn --habit

Repetisi menanamkan suatu memory, condition ---memory---response(reflex).

Membentuk habit dengan pertanyaan;
 what(apa tujuan) = what do you want exactly?
Why (why must I do that?)
How (practice n repetition min 30 hari, istiqomah)

Habit itu bisa baik atau buruk. Bagaimana cara membentuk habit, yakni dengan melakukan latihan dan pengulangan secara kontinyu. Semakin sering berlatih dan mengulang keahlian tertentu, kita akan semakin expert. Dan habit jugalah yang membedakan antara orang yang sukses dan tidak sukses. Awalnya mungkin susah untuk membentuk habit, tetapi lama kelamaan akan mendarah daging dan kita akan secara tanpa sadar bisa melakukan habit yang kita kuasakan.

Habit tak melulu karena motivasi tetapi juga pengkondisian. Habit bisa terbentuk dengan sukarela atau paksaan, selagi bapak ibu (practice and repetition) bertemu pasti akan terbentuk habit. Membentuk habit pada awalnya dipaksa, tidak cukup hanya motivasi saja, tetapi juga pengkondisian. Untuk membentuk habit dibutuhkan three milestone pertama 30 hari, kedua 3x30 hari dan yang ketiga 10x30. Kalau kita melakukannya dalam three milestone itu, insya Allah habit tidak akan menjadi permanen. Habit bukan lagi merupakan paksaan. Habit yg awalnya dilakukan secara sadar kini bisa dilakukan secara otomatis dan reflek.

Langkah membentuk habit:
1.     Membuat janji
2.    Mulai dari yang kecil, mulai dari yang sedikit/mudah
3.    Temukan tempat
4.    Berlatih terus menerus
5.    Outliners vs out of order.
Imposible is a sum of possibilities. If we are willing to do the possibilities, then imposible is nothing.

Hal yg menghalangi orang untuk sukses atau tale action:
1. Menunda
2. Unreasonable fear, ketakutan yg tidak beralasan
3.  Alasan-alasan yang dibuat-buat (pesimistis)
4. Bisikan syaithan dengan kata..mendingan...sekali ini saja dan yang lain juga begitu.

Persoalan habit bukan karena bisa atau tidak bisa, tetapi lebih pada mau atau tidak mau. Selamat menjemput habit.